VoIP Rakyat sebagai penyedia layanan VoIP di Indonesia

Masih ingat masa-masa tahun 2000-an ketika kita sedang eforia internet? Salah satu fasilitas internet yang wajib dijajal selain chat adalah telepon gratis via internet dengan pengguna internet lainnya, fasilitas ini dikenal sebagai VoIP.

Waktu itu nama kerennya VoIP Merdeka. “Wabah” VoIP (Voice over Internet Protocol) ini dimasyarakatkan oleh salah satu pakar teknologi informasi Indonesia, Onno W Purbo.

Hanya bermodalkan headphone yang ada fasilitas mikrofon seharga Rp 30.000, kita sudah bisa telepon gratis sepuasnya. Ajaib! Waktu itu VoIP sudah digunakan untuk menggelar diskusi panel antarprovinsi dipadu dengan chat.

Di dunia internasional, VoIP menjadi isu panas dan menawarkan terobosan telekomunikasi murah. Eforia berlanjut, sampai ada perusahaan di Indonesia yang memberi layanan telepon murah ke perangkat telepon konvensional via VoIP. Tetapi, sebab belum ada regulasi, pemiliknya ditangkapi.

Sudah lebih dari 10 tahun kita mengenal VoIP, tetapi sampai kini harga telekomunikasi masih mahal. Pemerintah gagal memanfaatkan teknologi komunikasi dan memilih berbisnis.

VoIP di Indonesia, melalui VoIP Merdeka, terus berkembang dan memilih tidak bentrok dengan regulasi. Caranya, hanya memperbolehkan telepon dari komputer ke komputer yang terkoneksi internet.

Kini VoIP Merdeka sudah tak didukung lagi, tetapi sebagai gantinya telah lahir VoIP Rakyat yang lebih praktis dan mudah dikonfigurasi. Oleh karena itu, masih ada harapan untuk memperjuangkan komunikasi murah secara konstitusional.

Era VoIP Rakyat

Persoalan rumitnya instalasi VoIP Merdeka kini teratasi setelah ada VoIP Rakyat (voiprakyat.or.id). “Perbedaan utama terletak pada protokol yang digunakan,” kata pendiri VoIP Rakyat, Anton Raharja.

VoIP Merdeka menggunakan protokol H.323, sedangkan VoIP Rakyat menggunakan Session Initiation Protocol atau SIP. H.323 lahir dari institusi berbasis telekomunikasi, sedangkan SIP dari institusi yang mengurusi internet.

“H.323 cocok langsung terhubung dengan perangkat komunikasi, sedangkan SIP cocok terhubung ke perangkat berbasis IP Address (alamat nomor komputer),” kata Anton Raharja (28). Protokol SIP ini bisa mendukung protokol lainnya.

Bersama rekan-rekannya dalam Information and Communication Technology (ICT) Center DKI Jakarta, Anton mengembangkan VoIP Rakyat untuk mewujudkan cita-cita telepon murah.

Anton yang bekerja untuk kepentingan nonprofit itu memilih tak menyelesaikan kuliah pada Jurusan Elektro STT Telkom demi proyek idealismenya itu.

Ditemui di Wisma ICT Center, Jalan Pangkalan Jati II No B1, Kalimalang, Jakarta Timur, Anton menyatakan, instalasi VoIP Rakyat lebih mudah dibandingkan dengan VoIP Merdeka. Teknologinya berkembang dan bisa menelepon ke mana pun.

“Saat ini memang baru diperbolehkan menelepon antarkomputer,” kata Anton. Meski secara teknis bisa digunakan menelepon ke telepon rumah dan telepon seluler, tetapi fungsi ini dimatikan karena regulasi pemerintah tak memungkinkan.

Sejarah VoIP Rakyat

VoIP Rakyat lahir tahun 2003. “Setelah berdiskusi dengan rekan-rekan, di antaranya Sindu Irawan dan Bona Simanjuntak, lahir ide membangun server VoIP yang kami pasang di ICT Center. Kami namakan VoIP Rakyat. Waktu itu web site- nya www.voiprakyat.net,” ujar Anton, Manajer Riset dan Pengembangan Perangkat Lunak ICT Center DKI Jakarta.

Akhir 2003, tim kehabisan energi karena kualitas infrastruktur internet buruk. Memasuki tahun 2004, infrastruktur ICT Center mulai bagus, tetapi pada akhir 2004 mereka kehabisan dana. “Bahkan, hanya untuk renewal domain voiprakyat.net saja lupa,” tuturnya.

Domain VoIP Rakyat berganti menjadi voiprakyat.or.id yang didapat gratis. Saat kekurangan dana, Oktober 2005 ada tawaran server gratis dari Acer. Banyak kalangan merespons positif VoIP Rakyat, termasuk Onno W Purbo. IDC Indonesia juga menyanggupi memberikan penitipan rak server gratis.

Server pun di-install perangkat lunak (software) baru. “Dulu server kami pakai SIP Express Router (SER), kemudian diganti Asterisk karena SER sulit dipelajari orang awam,” tutur Anton. Asterisk dikenal mudah untuk dipahami awam.

“Pada awal berdirinya VoIP Rakyat hanya ada 100 anggota, tetapi awal 2006 jumlahnya meningkat tajam, apalagi setelah Pak Onno ikut mengampanyekan VoIP Rakyat,” kata Anton. Kini anggota terdaftar 23.000 orang. Dari jumlah tersebut, yang aktif 6.000 orang.

“Saat ini waktu panggilan tercatat 160.000 menit, berarti telah mengirit biaya minimal Rp 20 juta jika dikonversi dalam percakapan konvensional lokal,” ucapnya.

Kemampuan VoIP Rakyat saat ini hanya dibatasi pada telepon komputer ke komputer atau PC to PC. “Bisa menelepon ke telepon rumah atau ke handphone, tetapi hanya dalam rangka riset,” katanya. Telepon PC to PC saat ini adalah satu-satunya model yang tidak melanggar regulasi. Namun, tetap akan menjadi persoalan jika PC to PC digunakan untuk komersial (dijual).

“Diharapkan, VoIP bisa dimanfaatkan optimal di kalangan kampus dan perkantoran. Perusahaan besar yang memiliki banyak cabang akan lebih murah jika menggunakan VoIP,” papar Anton yang saat ini bekerja jarak jauh untuk perusahaan SMS Gateway di Swedia.

Anton adalah seorang programmer yang juga pembuat software gratis open source, di antaranya PlaySMS (aplikasi SMS gateway), PlayBilling (aplikasi billing warnet), Banjar (aplikasi manajemen bandwidth), juga PlayVoIP (aplikasi VoIP Server).

Anton juga sedang menjalankan server Enum, proyek idealis memetakan nomor telepon ke VoIP. Server Enum dan SIP yang berjalan di atas platform telepon generasi keempat (4G) milik Anton merupakan server Enum pertama yang sudah berhasil aktif di Indonesia.

Melihat semangat orang- orang yang bekerja pada ICT Center, jelas terlihat ketergantungan dan ketakberdayaan rakyat menghadapi harga telekomunikasi yang mahal ternyata hanya persoalan regulasi. Bukan persoalan penguasaan teknologi. Atau, mengutip deklarasi VoIP Merdeka, “Bahwa sesungguhnya Rakyat Indonesia memiliki semangat dan kemampuan yang besar untuk mewujudkan alternatif sarana berkomunikasi, bebas dari segala belenggu birokrasi dan kekuasaan.”

Jika terus dibelenggu, pasti deretan “pemberontak” semakin panjang. Memang, komunitas underground itu terus merebak di internet untuk mengupayakan telepon murah.

Related Articles

Post Footer automatically generated by Add Post Footer Plugin for wordpress.

Print Friendly
Silahkan berbagi ...Share on Google+Share on LinkedInTweet about this on TwitterEmail this to someoneShare on FacebookPrint this page


Terima kasih telah berkunjung ke sini, saya sangat menghargai apabila anda meninggalkan komentar atau follow twitter saya @dewazildjian

No comments yet... Be the first to leave a reply!

Leave a Comment

 

— required *

— required *